Pages

Minggu, 12 Desember 2010

ini masih tentang habibi


November tahun ini terasa begitu lama, tiap jengkal hari yang berlalu begitu sesak
Mencintaimu adalah candu
Habibi
Andai saja kau lihat dua jendela penghidupanku
Pasti ada klise tentang mu Habibi,
Andai kau hirup dalam-dalam rongga oksigenku
Maka satu lah nafas kita
Habibi.........
Masihkah kau ingat tentang tempat serupa langit ?
Masihkah kau hafal bagaimana kita saling menyapa ? Habibi:
November ini telah usai
Maka cukuplah hujan di jendela ku
Habibi:
Bila november ini datang lagi,
Dapatkah kau melihat ku dalam jendela mu ? sedang aku
Melihat cinta dalam pelangi mu

Desember 2010

ketika HABIBI dan HABIBI:


Mataku terpejam, sedang hati
Mengalunkan asma mu
Habibi....... habibi....
Dalam malam serupa ajal kau melagu
Lantunan mu  membiusku
Habibi:
Sepucuk senyum mu membawaku
Aku terbawa pada angan serupa syurga
Habibi,
Aku sudah tahu bagaimana
Ketika katup bibirku kelu
Aku mendadak bisu Habibi:
Sajak ini mungkin ambigu
Tapi ini seutuhnya kau
Ya Habibi:
Habibi kau Habibi:

Desember 2010

LORONG ke ESA-an

Ini kali pertama aku duduk di lorong kesepian
Angin berbisik pada kuping yang terhalang jilbab
: dia yang esa
Ini kali pertama aku menulis sembari tersenyum
Angin merasuk lewat pori yang merenggang
: dia yang utuh
Lorong ini tak seutuhnya kering,
Lantas menjelma hatiku yang mulai basah kembali
                Dia hanyalah suatu utuh dan esa
                Esa yang utuh
                Utuh seperti dia yang esa
Lorong ini memang bukan milikku
Hanya saja,
Ku tinggal hatiku dalam basahnya lorong ini.
Hingga nanti aku kembali
Lalu menulis dengan ke-esaan yang lain

Partere , November 2010

SEBATAS LUKA

Dalam hujan aku bertasbih
Mengurai kata yang tak sempat terangkai
Riuh angin memecah-belah rasa dalam tasbihku
Ya Rab,
Ini tasbihku akan luka yang meradang
Tentang kejamnya cambuk-cambuk cinta
                Yang menggores kekal dalam jiwa
Ya Rab,
Tasbihku tak lantas usai
Masih tersisa sepatah kata dari jiwa
                Yang  bergelayut pada tiap dahan cinta
Dalam hujan aku bersenandung
Mengakhiri tasbihku dengan lantunan luka
Hingga terlelap dalam malam

Kamis, 18 November 2010

terbaring menuggu ajal


Ditemani sirkulasi oksigen kotor
Jantungku berdegup lemah
Lemah semakin lemah
Tersudut ditemani senja kelabu
Sepi menderaku, Aku lantas termenung
Mengulum sepi yang begitu usang
Hampa dan sendiri, Menunggu penghabisanku
Doa-doa sayup terdengar
Lembar-lembar kesedihan lalu terukir abadi
Sejenak biarkan aku larut bersama senja
Hingga langkah terhenti
mati